Dengan Bismillah Bisa Lulus Kuliah

Dapat melanjutkan hingga Perguruan Tinggi adalah dambaan setiap orang, apalagi bagi penulis yang berasal dari keluarga serba kekurangan. Jika kita memang niat mencari ilmu pasti Alloh akan memberikan jalan . . . . . .

Saat Ranjang Tak Lagi Bergoyang

Urusan ranjang tidak bisa disepelakan begitu saja, karena masalah ini merupakan salah satu masalah yang penting. Ada beberapa faktor menyebabkan hilangnya . . . . . .

Sistem Kerajaan Dalam Dunia Pendidikan

Dunia pendidikan adalah dunia bagi orang-orang yang berpendidikan, namun kenyataannya dalam lingkungan pendidikan juga terdapat praktek sistem dinasti . . . . .

Mempercepat Sholat Adalah Sunnah ???

Dalam lingkungan kita, ada beberapa orang yang beranggapan bahwa mempercepat sholat adalah sunnah, namun anggapan ini tidak sepenuhnya benar . . . .

Malu Bertanya Sesat Di Ranjang

Ada beberapa orang yang menyepelekan masalah ranjang, mereka berfikir dapat melakukannya dengan baik tanpa belajar dan mengandalkan insting semata . . . . .

Sunday, July 12, 2015

Petasan Bukan Untuk Pesta Lebaran


Petasan atau yang dikenal dengan mercon merupakan salah satu peledak berupa bubuk yang dikemas dalam beberapa lapis kertas yang digulung dan biasanya bersumbu. Petasan kadang kala digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa, seperti perayaan tahun baru, perkawinan, hari raya dan sebagainya. Petasan jenis ini memiliki daya ledak yang rendah atau low explosive. Bubuk yang digunakan untuk mengisi petasan merupakan bahan peledak kimia yang membuatnya dapat meledak pada kondisi tertentu, misalnya panas.

Sejarah Penemuan Petasan
Petasan pertama kali ditemukan sekitar abad ke-9 di Tiongkok. Pada saat mitu, ada seorang juru masak yang secara tidak sengaja mencampurkan tiga bahan bubuk hitam (black powder), yaitu garam peter (kalium nitrat), belerang (sulfur) dan arang dari kayu (charcoal) di dapurnya. Dan ternyata hasil dari  campuran tiga bahan  tersebut mudah terbakar, dan jika ketiga bahan campuran tersebut dimasukkan kedalam bambu yang dipasang sumbu lalu dibakar, maka akan mengasilkan suara ledakan keras yang dipercaya dapat mengusir roh jahat. Dalam perkembangannya, petasan digunakan untuk perayaan pernikahan, perayaan hari raya, peristiwa gerhana bulan dan upacara keagamaan lainnya.

Pabrik petasan pertama kali didirikan pada masa Dinasti Song, dan tradisi petasan mulai menyebar ke seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia. Yang dibawa orang-orang Tiongkok yang datang ke Indonesia

Pandangan Agama Islam
Tradisi menyalakan petasan sekarang ini seolah-olah milik orang islam, bagaimana tidak ? setiap menjelang ramadhan dan hari raya, banyak petasan yang dijual dipinggir jalan dan ketika hari raya  banyak sekali orang-orang yang menyalakan petasan, bahkan hampir di setiap mushola atau masjid.

Banyak yang beranggapan bahwa menyalakan petasan adalah salah satu upaya untuk memeriahkan hari raya, tak mengherankan jika setiap ramadhan banyak yang menjual. Jika kita mau berfikir dengan jernih, sebenarnya petasan merupakan salah satu pemborosan dan pemborosan dilarang dalam agama islam.

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيراً -٢٦- إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوراً -٢٧-

Artinya “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan-nya.” (Q.S Al-Isra : 26-27)

Jika hitung-hitung, setiap mushola pasti menghabiskan uang kurang lebih Rp. 200.000 untuk membeli petasan, dan jika dalam sebuah desa ada 20 mushola atau masjid, uang yang terkumpul adalah sekitar 4 juta, belum lagi petasan yang dibeli oleh anak-anak atau masyarakat yang lainnya. Uang sebanyak itu seharusnya bisa digunakan untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan atau untuk diberikan kepada anak-anak yang bersekolah. Dengan begitu uang tersebut lebih berguna untuk orang lain, dan tidak habis terbakar.


Monday, June 22, 2015

Doa Sore Hari



أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرِ مَا فِيهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَسُوءِ الْكِبَرِ وَفِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ

Artinya : 'Kami memasuki sore hari dan pada sore ini jagad raya tetap milik Allah. Segala puji bagi Allah tiada Tuhan selain Allah. Dialah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu sebagian dari kebaikan malam ini dan sebagian kebaikan yang ada di dalamnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan malam ini dan dari kejahatan yang ada di dalamnya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kepikunan, kesengsaraan di masa tua, cobaan atau bencana dunia dan siksa kubur. (HR. Muslim)

Doa Saat Kesusahan



لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Artinya : Tiada Ilah selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tiada ilah selain Allah, Tuhan langit dan bumi serta Tuhan arasy yang mulia. (HR. Bukhari)

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Artinya : Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung dan Maha Penyantun. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Penguasa arasy yang agung. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan langit dan bumi serta Tuhan arasy yang mulia. (HR. Bukhari)

أَللَّهُ أَللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Artinya : Allah, Allah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengansesuatupun). (HR. Abu Daud, Shahih menurut Al-Albani)

Doa Pagi Hari



اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ

Artinya : Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu, dan aku meminta ampun dari segala yang pernah aku perbuat). (HR. Bukhari)[1]


[1] Jika doa ini diucapkan di waktu sore lalu meninggal, maka ia akan masuk surga. Dan jika ia membacanya di waktu pagi lalu meninggal pada hari, maka ia mendapatkan seperti itu juga (masuk surga)

Doa Kebaikan Dunia Akhirat



اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya : Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka. (HR. Bukhari)

Doa Meminta Perlindungan Dari Fitnah Kefakiran



اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ قَلْبِي بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

Artinya : Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah neraka serta siksa neraka, dan dari fitnah kubur dan siksa kubur dan dari buruknya fitnah kekayaan dan dari buruknya fitnah kefakiran. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan fitnah Al Masih Ad Dajjal. Ya Allah, bersihkanlah hatiku dengan air salju dan air embun, sucikanlah hatiku dari kotoran-kotoran sebagaimana Engkau menyucikan baju yang putih dari kotoran. Dan jauhkanlah antara diriku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, kesalahan dan terlilit hutang.(HR. Bukhari)

Doa Orang Yang Menjenguk Untuk Si Sakit



أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمً

Artinya : Hilangkanlah penyakit wahai Rab sekalian manusia, sembuhkanlah wahai dzat Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada yang dapat menyembuhkan melainkan kesembuhan dari-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak membawa rasa sakit). (HR. Bukhari)

Mahrom Dan Aurat



Pakaian dan aurat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, keduanya bagaikan dua buah sisi mata  uang. Pakaian adalah sesuatu yang digunakan untuk menutup aurat dan aurat adalah sesuatu yang harus ditutup, da aurat hanya diperbolehkan untuk dilihat untuk orang yang merupakan mahromnya. Mahrom sendiri juga menentukan boleh tidaknya seseoorang untuk dinikahi. Demikian pentingnya, maka mahrom harus dipelajari oleh setiap muslim.

Sekarang ini ada sedikit kerancauan terkait masalah mahrom, banyak yang salah menyebut kata mahrom, mereka menganggap muhrim adalah mahrom, padahal keduanya sangat berbeda jauh artinya. Menurut Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mahrom adalah “semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena nasab, persusuan dan pernikahan”. Sedangkan menurut Ibnu Atsir dalam An-Nihayah mahram adalahOrang-orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya seperti bapak, anak, saudara, paman, dan lain-lain”. Sedangkan muhrim adalah orang yang berniat untuk memasuki dan mengerjakan ibadah haji dan umroh. Dari sini dapat diketahui bahwa kedua kata tersebut tidak bisa disamakan dan kedua kata tersebut memang mempunyai arti yang berbeda.

Adapun dasar yang menjelaskan tentang mahrom adalah firman Alloh dalam surat An-Nisa ayat 22-24

وَلاَ تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم مِّنَ النِّسَاء إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتاً وَسَاء سَبِيلاً .حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ الأَخِ وَبَنَاتُ الأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُم مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَن تَجْمَعُواْ بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إَلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُوراً رَّحِيماً .وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء إِلاَّ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُم مَّا وَرَاء ذَلِكُمْ أَن تَبْتَغُواْ بِأَمْوَالِكُم مُّحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُم بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُم بِهِ مِن بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيماً حَكِيماً

Artinya :  Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan ; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S An-Nisa/4 : 22-24)

Dalam islam mahrom dibagi menjadi dua, yaitu mahrom selamanya/abadi (mahrom muabbad) dan mahrom sementara waktu (mahrom muaqqot). Mahrom abadi terjadi karena 3 hal, yaitu karena nashab/keturunan, ikatan pernikahan, dan karena persusuan (rodho’ah).

Pertama, mahrom karena kekerabatan. Mahrom abadi bagi seorang wanita yang dikarenakan keturunan/kekerabatan ada tujuh, antara lain
  • Bapak, kakek, dan seterusnya ke atas, baik dari pihak bapak maupun ibu
  • Anak, cucu, dan kebawah seterusnya, baik cucu dari laki-laki maupun anak perempuan
  • Saudara sebapak dan seibu, saudara sebapak saja atau saudara seibu
  • Keponakan (anak saudara laki-laki sebapak dan seibu, saudara sebapak saja, maupun saudara seibu saja)
  • Keponakan (anak saudara perempuan sebapak dan seibu, saudara sebapak saja, maupun saudara seibu saja)
  • Paman (saudara laki-laki bapak, meliputi saudara sebapak dan seibu, saudara sebapak saja, ataupun seibu saja)
  • Paman (saudara laki-laki seibu, meliputi saudara sebapak dan seibu, saudara sebapak saja, ataupun seibu saja)

Kedua, mahrom karena sepersusuan. Mahrom abadi bagi seorang wanita yang dikarenakan sepersusuan ada tujuh, antara lain
  • Wanita yang menyusui dan ibunya, begitu pula ibu dari suami wanita yang menyusui, istri lain dari suami yang menyusui
  • Anak perempuan dari wanita yang menyusui (saudara sepersusuan)
  • Anak perempuan dari suami wanita yang menyusui
  • Saudara perempuan dari wanita yang menyusui (bibi persusuan)
  • Saudara perempuan dari suami wanita yang menyusui (bibi persusuan)
  • Anak perempuannya anak laki-laki dari wanita yang menyusui (anaknya saudara persusuan)
  •  Anak perempuannya anak perempuan dari wanita yang menyusui (anaknya saudara persusuan)

Ketiga, mahrom karena pernikahan. Mahrom abadi bagi seorang wanita yang dikarenakan pernikahan ada empat, antara lain
  • Suami ibu, suami nenek, dan seterusnya ke atas, menjadi mahrom ketika telah berhubungan suami istri, tidak hanya sekedar akad saja. Oleh karena itu, adapun jika mereka bercerai sebelum melakukan hubungan suami istri, maka tidak terjadi dan tidak ada hubungan mahrom
  • Anak-anak suami dan seterusnya kebawah, baik anak kandung maupun anak tiri
  • Mertua (bapak suami, kakek suami, dan seterusnya ke atas, termasuk kakek dari pihak bapak ataupun ibuya)
  • Menantu (termasuk suami anak, maupun suami cucu dan seterusnya ke bawah jika diantara mereka telah terjadi akad nikah, walaupun pernikahan mereka telah berakhir dengan adanya kematian, talak, maupun rusaknya akadnya, namun hubungan mahrom tetap ada)

Mahrom sementara waktu adalah mahrom yang sifatnya sementara dan tidak abadi, jika suatu saat keadaan berubah, maka hubungan mahrom tiak berlaku lagi. Yang termasuk mahrom sementara waktu ada delapan, yang antara lain adalah
  • Saudara perempuan dari istri (ipar)
  • Bibi (dari jalur ayah atau ibu) dari istri
  • Istri yang telah bersuami dan istri orang kafir jika ia masuk Islam
  • Wanita yang telah ditalak tiga, maka ia tidak boleh dinikahi oleh suaminya yang dulu sampai ia menjadi istri dari laki-laki lain
  • Wanita musyrik sampai ia masuk Islam
  • Wanita pezina sampai ia bertaubat dan melakukan istibro’ (pembuktian kosongnya rahim)
  • Wanita yang sedang ihrom sampai ia tahallul
  • Tidak boleh menikahi wanita kelima sedangkan masih memiliki istri yang keempat

Untuk mempermudah memahami siapa saja mahrom kita, maka silahkan lihat diagram mahrom berikut ini yang berasal dari majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun ke-13 halaman70


Inilah sekelumit pembahasan singkat mengenai mahrom, kendati demikian selayaknya setiap orang mempelajari tentang mahrom karena mahrom berkaitan dengan beberapa hal sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, dan salah satunya adalah pernikahan. Sehingga usahakanlah mengetahui siapa yang termasuk mahrom dan yang bukan.

References
Majalah Al-Furqon Edisi 12 Tahun III
Majalah Nikah Sakinah Volume 09, No. 11 2011
Umar Sulaiman Al-Asyqar. 2006. Fikih Niat Dalam Ibadah. Jakarta : Gema Insani Press
Mujahid Press
M. Quraish Shihab. 2004. Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah : Pandangan Ulama Masa Lalu & Cendekiawan Kontemporer. Jakarta : Lentera Hati
M. Ilham Maqzuq. 2005. Remaja Islam Berbaju Yahudi. Bandung :
Ibrahim Muhammad Al-Jamal. 1999. Fiqih Muslimah. Jakarta : Pustaka Amani
Abi Muhammad Asyraf Bin Abdul Maqshud. 2008. Fatwa Perhiasan Wanita. Jakarta : Embun Publishing
Abdul Qadir Al-Talidi. 2004. Cewek Modis : Menebar Gaya Menuai Prahara. Yogyakarta : Diva Press
Majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun ke-13 2014

Friday, June 19, 2015

Jilbab Bukanlah Fashion



Memakai hijab atau jilbab merupakan sebuah kewajiban bagi para muslimah, jilbab berguna untuk melindungi diri mereka dari berbagai godaan serta menjaga kehormatan dirinya sendiri. Dengan berhijab mereka telah melaksanakan perintah Alloh dan Rasululloh, dan melaksanakan perintah Alloh akan mendapatkan pahala.

Memakai hijab adalah tuntutan agama, dan merupakan perintah Alloh. Memakai jilbab bukanlah untuk dikatakan cantik dan agar mendapatkan perhatian orang lain, memakai jilbab adalah cara untuk menjaga kehormatan diri. Memakai jilbab adalah sebuah kewajiban, bukan sekedar berbangga diri, demi kesombongan dan mencari popularitas. Karena hal tersebut akan mendapatkan hukuman dari Yang Maha Kuasa.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا

Dari Abdullah bin Umar radhiyallohu ‘anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallohu ‘alaihi`wa sallam bersabda, 'Barangsiapa memakai pakaian dengan penuh kesombongan di dunia, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari Kiamat, kemudian ia akan dimasukkan ke dalam api neraka'." (HR. Ibnu Majjah, Hasan menurut Al-Albani)

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallohu ‘anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallohu ‘alaihi`wa sallam bersabda, 'Barangsiapa memakai pakaian dengan penuh kesombongan, maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari Kiamat'. (HR. Ibnu Majjah, Hasan menurut Al-Albani)

Dari Ibnu Umar, ia berkata, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barang siapa memakai baju untuk mencari kemasyhuran didunia maka Alloh akan memakaikan padanya baju kehinaan dihari kiamat”. (HR. Abu Daud, Ahmad dan Nasa’i)

Hadis diatas menunjukkan tentang pemakaian baju yang dipakai untuk menarik perhatian orang lain dan sebuah popularitas, jenis pakaian ini dilarang dalam islam, baik laki-laki maupun perempuan. Ibnu Atsir berkata “Yang dimaksud dengan pakaian untuk mencari kemasyhuran ialah pakaian yang termasyhur diantara orang-orang, karena warnanya berbeda dengan baju-baju mereka sehingga orang-orang mengarahkan pandangan mereka kepadanya dan ia menyombongkan serta membanggakan diri[1]

Sedangkan Asy-Syaukani berkata, “Kata-kata “baju kehinaan” ialah baju yang menyebabkan kehinaan pada hari kiamat. Wajib diketahui bahwa memakai baju untuk mencari kemasyhuran dan menampakkan kesombongan dilarang pula bagi laki-laki[2]

Ibnu Ruslan berpendapat, “Karena ia memakai pakaian untuk mencari kemasyhuran didunia untuk menyombongkan dan membanggakan diri kepada orang lain. Pada hari kiamat Alloh memberikan pakaian padanya baju yang menyebabkan kehinaan dan kerendahannya sebagai hukuman baginya, dan hukuman itu sesuai dengan jenis perbuatannya[3]. Dalam halaman yang sama, Ibnu Ruslan juga berkata, “Apabila pakaian itu dengan tujuan mencari kemasyhuran dihadapan orang banyak, maka tiada beda antar baju yang mewah dan baju yang rendah, dan antara orang yang sesuai dengan pakaian orang banyak maupun yang berlawanan. Karena hukum haram itu berlaku untuk tujuan mencari kemasyhuran dan yang dinilai adalah tujuannya, walaupun tidak sesuai dengan kenyataan[4]

Seandainya seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, memakai pakaian yang bagus dan indah tidak dengan tujuan untuk mencari popularitas, maka tidak apa-apa karena pada dasarnya Alloh juga menyukai keindahan. Abdullah bin Mas’ud berkata bahwa  Rasululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

"Tidaklah masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat takabur walaupun seberat dzarrah" Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Bagaimana dengan seseorang yang senang berpakaian bagus dan sandal yang bagus?" beliau menjawab, "Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan, takabbur adalah menentang kebenaran dan meremehkan orang lain" (HR. Muslim)

Intinya bahwa memakai baju untuk popularitas dilarang, namun memakai baju yang bagus diperbolehkan. Yang membedakan adalah niat dari si pemakai pakaian tersebut, dan  yang mengetahui niat hanya Alloh semata. Dan yang lebih jelas adalah jilbab bukanlah fashion, jilbab adalah perintah Alloh bagi manusia.

References
Umar Sulaiman Al-Asyqar. 2006. Fikih Niat Dalam Ibadah. Jakarta : Gema Insani Press
M. Ilham Maqzuq. 2005. Remaja Islam Berbaju Yahudi. Bandung : Mujahid Press
M. Quraish Shihab. 2004. Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah : Pandangan Ulama Masa Lalu & Cendekiawan Kontemporer. Jakarta : Lentera Hati
Ibrahim Muhammad Al-Jamal. 1999. Fiqih Muslimah. Jakarta : Pustaka Amani
Abdul Qadir Al-Talidi. 2004. Cewek Modis : Menebar Gaya Menuai Prahara. Yogyakarta : Diva Press
Abi Lathif dan Ahyraf Qodh. 2005. Meredam Gejolak Syahwat. Solo : Pustaka Arafah
https://dn3pm25xmtlyu.cloudfront.net/photos/large/708879826.jpg?1356673405&Expires=1434797746&Signature=nWfVUqmuIVJOpc6dK-rz3R8Jh8bXtaTyEu65FKdcFTkeGD35Ho6CrH4Q85-c3Sz8ibwo74Q7ukv3RiU6D4T-S6otBHiaiKqfRVsWbkW9JlQRzdpT1gZDtOy~bB47k~g6ZEl1Hdmq7rQdpWF-XsSx~8fE7HeJraT9kzhLmvzwDoI_&Key-Pair-Id=APKAIYVGSUJFNRFZBBTA


[1] Ibrahim Muhammad Al-Jamal. 1999. Fikih Muslimah Ibadah Muamalah. Jakarta : Pustaka Amani Hal. 90
[2] Idem. Hal 90
[3] Idem Hal 90-91
[4] Idem Hal. 91